Selasa, 19 Mei 2009

Cacat status ku akan membuat aku menjadi orang

Canda, tawa, dan cerianya, semua itu seolah menunjukkan betapa bahagianya anak itu. Tapi dibalik semua itu, tersimpan sejuta tanya. “ kemana ayahku?” “siapa ayahku?”. Dari pertanyaan itu, kita dapat menyimpulkan bahwa anak itu merupakan hasil yang tidak dikehendaki oleh ayah dan ibunya.
Hal ini merupakan sedikit contoh dari banyaknya kasus dunia remaja di Indonesia. Maraknya pergaulan bebas antar remaja merupakan hal yang dianggap biasa-biasa saja. Hal ini dapat kita lihat dari betapa banyaknya janin-janin yang tak bersalah yang tidak dapat menikmati hidupnya. Jika memang mereka hadir karena tidak dihendaki, kenapa sang ayah dan sang ibu harus melakukan hal yang dapat membuat janin-janin itu ada?.
Terkadang juga kita sering menemui anak-anak dari hasil yang tidak sah itu harus menanggung apa yang ayah dan ibunya lakukan. Sebenarnya siapa yang salah dalam hal ini?. Apakah mungkin anak-anak yang tak berdosa itu yang berbuat kesalahan?, sepertinya hanya orang-orang yang tidak mengerti persoalan ini yang mengatakan hal itu. Akan tetapi, jika sang ayah dan ibu yang bersalah, kenapa harus anak itu yang menanggung semua kesalah itu?.
Mungkin untuk menjalani hidup seorang yang memiliki cacat fisik lebih ringan ketimbang harus menjadi seorang yang memiliki cacat status. Akan tetapi kenapa kebanyakan orang malah mengejek anak-anak yang memiliki cacat status yang seharusnya butuh akan perhatian kita. Mungkin selama ini kita tidak menyadari bahwa biasanya, anak-anak dari cacat status inilah yang bisa berhasil, karena mereka lebih prihatin.

Jumat, 08 Mei 2009

Nasibku si Tukang Ais Sampah

Pria berbadan kurus kecil dan berkulit dekil itu terus berjalan menitikan jejak langkah kakinya diatas kerumunan sampah-sampah yang bau. Dengan mengenakan baju putih dekil, celana komprang hitam, topi jerami, dan tas dari karung goni yang selalu menemaninya mencari nafkah, ia terus berjalan dan mengais-ngais gundukan sampah. Baginya sampah adalah teman hidupnya yang selalu menemaninya. Bahkan sampah lebih setia dibandingkan dengan istrinya yang meninggalkannya 2 tahun silam. Karung goninya yang bau dan penuh dengan sampah itu membuatnya sedikit bisa menunjukkan senyumannya kepada orang-orang yang ia jumpai. Baginya bau sampah itu lebih enak dibandingkan dengan bau uang ataupun keju.
Sebenarnya dia ingin mencoba untuk hidup lebih layak seperti kebanyakan orang. Tapi apalah daya pria yang hanya bisa duduk di bangku SD itu. Setiap kali ia mencoba mencari pekerjaan, ia selalu ditolak dengan sadis. Sesungguhnya para pemulung itu lebih berjasa dibandingkan dengan para pejabat-pejabat kita yang tidak perduli dengan rakyat. Karena pemulung itu, sampah-sampah kita yang tidak perlu bisa didaur ulang. Yah,,, inilah bangsaku. Kedudukan hanya bisa dilihat dari tittle dan pendidikan. Pria itu hanyalah sedikit dari banyak contoh betapa susahnya orang yang miskin di negeri kita ini. Anak pribumi tidak akan mendapatkan apa yang seharusnya ia dapatkan. Mungkin benar kata kebanyakan orang. “yang miskin akan tambah miskin, dan yang kaya akan tambah kaya”. Sesungguhnya gelandangan dan pengemis itu tidak timbul karena sendirinya. Tapi mereka timbul karena memang sengaja dibuat. Seandainya alokasi bantuan dana BLT tidak nyangkut sana sini, mungkin saja bangsa kita ini bisa sejahtera. Tapi semua itu tidak akan pernah terjadi selagi KKN masih dimana-mana.