Pria berbadan kurus kecil dan berkulit dekil itu terus berjalan menitikan jejak langkah kakinya diatas kerumunan sampah-sampah yang bau. Dengan mengenakan baju putih dekil, celana komprang hitam, topi jerami, dan tas dari karung goni yang selalu menemaninya mencari nafkah, ia terus berjalan dan mengais-ngais gundukan sampah. Baginya sampah adalah teman hidupnya yang selalu menemaninya. Bahkan sampah lebih setia dibandingkan dengan istrinya yang meninggalkannya 2 tahun silam. Karung goninya yang bau dan penuh dengan sampah itu membuatnya sedikit bisa menunjukkan senyumannya kepada orang-orang yang ia jumpai. Baginya bau sampah itu lebih enak dibandingkan dengan bau uang ataupun keju.
Sebenarnya dia ingin mencoba untuk hidup lebih layak seperti kebanyakan orang. Tapi apalah daya pria yang hanya bisa duduk di bangku SD itu. Setiap kali ia mencoba mencari pekerjaan, ia selalu ditolak dengan sadis. Sesungguhnya para pemulung itu lebih berjasa dibandingkan dengan para pejabat-pejabat kita yang tidak perduli dengan rakyat. Karena pemulung itu, sampah-sampah kita yang tidak perlu bisa didaur ulang. Yah,,, inilah bangsaku. Kedudukan hanya bisa dilihat dari tittle dan pendidikan. Pria itu hanyalah sedikit dari banyak contoh betapa susahnya orang yang miskin di negeri kita ini. Anak pribumi tidak akan mendapatkan apa yang seharusnya ia dapatkan. Mungkin benar kata kebanyakan orang. “yang miskin akan tambah miskin, dan yang kaya akan tambah kaya”. Sesungguhnya gelandangan dan pengemis itu tidak timbul karena sendirinya. Tapi mereka timbul karena memang sengaja dibuat. Seandainya alokasi bantuan dana BLT tidak nyangkut sana sini, mungkin saja bangsa kita ini bisa sejahtera. Tapi semua itu tidak akan pernah terjadi selagi KKN masih dimana-mana.
Jumat, 08 Mei 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar